Temukan koleksi favoritmu

tersedia 226.232 koleksi, tersebar di seluruh perpustakaan di lingkungan kemdikbud

PELAYARAN PERDAGANGAN REMPAH DI KABUPATEN TULANG BAWANG

RECORD DETAIL
Back To Previous  XML Detail

Title
PELAYARAN PERDAGANGAN REMPAH DI KABUPATEN TULANG BAWANG
Collection Location
Perpustakaan BPNB Jawa Barat
Edition
Tahun 2017
Call Number
B. 64 PER
ISBN/ISSN
Author(s)
Iim Imadudin, Herry Wiryono,
Harry Ganjar Budiman, G. Andika Ariwibowo.
Subject(s)
Sejarah, Perdagangan, Rempah-Rempah.
Transportasi, Kabupaten Tulang Bawang.
Classification
B. 64 PER
Series Title
GMD
Text
Language
Indonesia
Publisher
BPNB Jawa Barat
Publishing Year
2017
Publishing Place
Bandung -Jawa Barat
Collation
lebar 20,5 cm., tinggi 29 cm., tabel., gambar., 12
Abstract/Notes
Kata kunci : Sejarah, Perdagangan, Rempah- rempah, Transportasi, Kabupaten Tulang Bawang,
Lokasi : Kabupaten Tulang Bawang, Lampung
Judul : Pelayaran Dan Perdagangan Rempah Di Kabupaten Tulang Bawang
Penulis : Iim Imadudin, Herry Wiryono, Harry Ganjar Budiman, G. Andika Ariwibowo
Penerbit : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat
Tahun : 2017
Kolasi : vi; 122 halaman; foto; table; peta; tinggi 29,2 cm; lebar 22,5 cm
No klasifikasi : B. 64 PER
Abstrak
Selama abad ke-16, perdagangan di Asia Tenggara tumbuh dengan pesat, karena tingginya permintaan Eropa terhadap rempah rempah. Lautan Nusantara ramai dilayari oleh para pedagang yang membawa komoditi, seperti lada, pala, dan cengkih. Kaum saudagar dari bermacam macam bangsa dan agama disambut dengan ramah, dengan syarat meraka bersedia membayar upeti kepada raja dan tunduk kepada hukum negeri setempat. Di berbagai Bandar, para raja memberlakukan hak istimewa, namun pada umumnya hukum yang berlaku menyerupai perdagangan bebas. Dasar untuk kebebasan dari segala aturan itu ialah bahwa apabila raja terlampau membatasi keleluasaan kaum saudagar, mereka akan berniaga ke tempat lain(Dick, 1988: 402). Salah satu penghasil lada yang utama di Lampung adalah Tulang Bawang (Gonggong, 1993: 28; Sayuti, 1993: 3). Tome Pires yang berlayar dari Laut Merah ke Cina pada 1512 hingga 1515 menceritakan ihwal produksi lada di Tulang Bawang. Secara umum penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dinamika perdagangan rempah-rempah di wilayah Tulang Bawang. Penelitian ini menggunakan metode heuristik yaitu proses mencari, menemukan, dan menghimpun sumber sejarah yang berkesesuaian dengan pokok masalah. Sumber lisan berupa tradisi lisan yang berkembang di masyarakat. Adapun teknik pengumpulan data lisan menggunakan teknik teknik wawancara terbuka. Wawancara dilakukan dengan tokoh tokoh masyarakat, budayawan, serta beberapa orang masyarakat. Setelah proses heuristik, kemudian dilakukan kritik yang terdiri dari kritik ekstern dan kritik intern. Kritik ekstern bertujuan untuk menentukan otentitas, sedangkan kritik intern dilakukan dengan melakukan penilaian mengenai kredibilitas sumber tersebut. Kabupaten Tulang Bawang merupakan pintu gerbang jalur lalu lintas timur menuju dan keluar dari Provinsi Lampung, yang berbatasan dengan Kabupaten Ogan Komelir Ilir (OKI) Provinsi Sumatera Selatan, serta Laut Jawa. Infrastruktur Transportasi darat didukung Jalur Lintas Timur dan Jalur Lintas Pantai Timur yang memperpendek jalur ekonomi barang dan jasa ke Pulau Jawa, dan dari Pulau Jawa ke Pulau Sumatera. Dalam sejarah Nusantara, Tulang Bawang merupakan satu di antara kerajaan tertua di Indonesia, selain Melayu, Sriwijaya, Kutai, dan Tarumanegara. Bagaimana sesungguhnya gambaran hubungan Lampung dengan Banten pra kesultanan masih didukung sumber yang terbatas. Akan tetapi, untunglah, dari yang terbatas itu Tome Pires dalam (Gulliot, 1996: 125) memberi keterangan bagaimana hubungan Lampung dengan Banten sebelum terbentuknya kesultanan Banten. Ia menceritakan bahwa telah terjadi hubungan dagang antara Kerajaan Sekampung, Andalas, dan Tulang Bawang dengan Banten. Setelah penaklukannya ke Banten Girang, dalam kunjungannya Hasanudin diiringi perdana mentrinya Ki Jingjo dan Ratu Balau. Ia memiliki misi keislaman wilayah pedalaman. Secara implisit dapat dibaca bahwa Banten Girang mengganggap kawasan Selatan Sumatera sebagai bagian dari kekuasaannya. Relatif sedikitnya informasi tentang keadaan Lampung pada masa sebelum islam dalam hubungannya dengan Banten menciptakan bukti historis dan intrepertasinya. Memahami jejak masuknya islam ke Lampung memiliki kompleksitas persoalan yang serupa dengan kedatangan Islam di Nusantara secara umum.
Specific Detail Info
2 Eks