Temukan koleksi favoritmu

tersedia 226.097 koleksi, tersebar di seluruh perpustakaan di lingkungan kemdikbud

KAJIAN PERKEMBANGAN KOTA TELUK BETUNG PADA PERIODE 1857-1930

RECORD DETAIL
Back To Previous  XML Detail

Title
KAJIAN PERKEMBANGAN KOTA TELUK BETUNG PADA PERIODE 1857-1930
Collection Location
Perpustakaan BPNB Jawa Barat
Edition
2018
Call Number
A. 69 PER
ISBN/ISSN
Author(s)
Ali Gufron
G. Andika Ariwibowo
Yudi Putu Satriadi, Herry Wiryono
Subject(s)
Keragaman Budaya
Toleransi, Nilai Budaya
Cigugur, Kuningan
Classification
A. 69 PER
Series Title
GMD
Text
Language
Indonesia
Publisher
BPNB Jawa Barat
Publishing Year
2018
Publishing Place
Bandung -Jawa Barat
Collation
iii, Tabel, peta, lebar 28 cm, tinggi 29,5 cm, 70
Abstract/Notes
Salah satu kota penting yang terdapat di wilayah Lampung pada masa kolonial adalah Teluk Betung (Telok Betong). Sebelum hadirnya Pelabuhan Bakauheni pada Tahun 1980 (Rijal, 2011 : 71), Kota Teluk Betung merpakan pusat dari seluruh aktivitas ekonomi di wilayah Lampung. Di samping itu Kota Teluk Betung juga merupakan ibu kota keresidenan Lampung sejak berakhirnya perang Lampung pada tahun 1857. Sebagai pusat pemerintahan, ekonomi dan aktivitas kehidupan masyarakat tentunya ini memiliki makna penting dalam alur sejarah perkembangan wilayah Lampung pada masa kolonial. Berdasarkan pemaparan tersebut maka kajian ini akan membahas mengenai: 1. Bagaimanakah perkembangan Kota Teluk Betung pada masa kolonial? 2. Bagaimanakah Pengaruh Pelabuhan Teluk Betung bagi pertumbuhan dan perkembangan Kota Teluk Betung?. 3. Bagaimana bentuk dan gambaran dari aktivitas ekonomi dan perdagangan di wilayah Teluk Betung pada 1856 hingga 1930?. Tujuan Kajian wilayah Lampung selama ini belum mendapatkan tempat yang berarti dalam kajian historiografi di Indonesia. Masih Sedikit pembahasan terhadap berbagai aspek yang terkait dengan perkembangan sejarah di wilayah Lampung. Letak Lampung yang strategis sebagai pintu gerbang Sumatera telah menjadikan wilayah ini memainkan peran sentral dalam arus transportasi dan perdagangan di wilayah Sumatera. Hal ini tentunya merupakan suatu pembahasan yang menarik terutama dalam membahas salah satu kota penting yang terdapat di wilayah ini yakni dalam pembahasan mengenai “Perkembangan Teluk Betung Pada Periode 1857 sampai 1930”. Diharapkan kajian ini juga dapat menjadi satu langkah dalam menambah referensi penulisan sejarah mengenai wilayah Lampung. Kajian menggunakan metodologi sejarah yakni yang terdiri dari susunan pemilihan tema, penelusuran sumber data, verifikasi dan kritik sumber data, setelah itu baru kemudian dilakukan penulisan terhadap kajian ini. Wilayah Lampung merupakan pintu gerbang menuju ke wilayah Sumatera. Wilayah ini menjadi jalur lalu lintas perdagangan dan ekonomi antara Jawa dan Sumatera. Kondisi ini kemudian membuat wilayah ini ramai akan aktivitas ekonomi dan perdagangan. Dalam kegiatan ini aktivitas ekonomi pada masa sekarang ini, Propinsi Lampung tidak saja berperan sebagai jalus transportasi perdagangan, wilayah ini juga kaya akan sumber daya alam yang dimiliki nilai ekonomi yang tinggi. Kondisi wilayah pedalaman yang luas dan subur menjadikan Lampung dikenal sebagai salah satu pusat dari perkebunan karet, kopi, buah-buahan, palawija, aren, kelapa sawit, dan tebu termasuk juga dengan berbagai industri pengolahan dari produk-produk perkebunan tersebut. Di samping itu sektor pertambangan juga menjadi andalan pemasukan daerah bagi provinsi Lampung. Jenis pertambangan batu bara (BPS Lampung, 2015:178-179,264). Perkebunan menjadi Sektor andalan Lampung pada masa kolonial, Lada, Karet, Kopra, Kopi dan tembakau merupakan tulang punggung ekonomi Lampung pada masa tersebut. Afdeeling Teluk Betung merupakan suatu wilayah yang menarik untuk dikaji. Hali ini karena Teluk Betung merupakan pusat pemerintahan dan ekonomi di wilayah Karesidenan Lampung sejak tahun 1857. Pembangunan dan pengembangan sektor ekonomi oleh pemerintah kolonial menjadikan wilayah ini bukan saja sebagai salah satu pusat penghasil komoditas hasil bumi namun juga sebagai salah satu bandar perdagangan di kawasan Hindia Belanda, terutama di sekitar wilayah Sumatera bagian selatan. Pembangunan sarana dan prasarana yang mendukung kelancaran bagi perkembangan ekonomi seperti jalan raya, pelabuhan, dan kereta api di kawasan Teluk Betung sejak medio abad ke-19 kemudian menjadi urat nadi yang turut menggerakkan perdagangan serta memberikan pengaruh penting bagi perkembangan Afdeeling. Pembangunan Afdeeling Teluk Betung yang dimulai sejak tahun 1857 telah perekonomian dan perdagangan di wilayah Lampung maupun Sumatera bagian selatan. Teluk Betung telah menjadi simpul penting bagi jaringan perdagangan dan transportasi lintas Sumatera hingga Batavia. Pemberian konsensi perkebunan maupun pertambangan di wilayah ini telah menjadikan Lampung juga menjadi sumber pemasukan ekonomi bagi Hindia Belanda.
Specific Detail Info
2 eks