Temukan koleksi favoritmu

tersedia 226.084 koleksi, tersebar di seluruh perpustakaan di lingkungan kemdikbud

KAJIAN TENTANG TRADISI NGITA( PENGKAJIAN TRADISI NGITA) DI KABUPATEN LAMPUNG BARAT

RECORD DETAIL
Back To Previous  XML Detail

Title
KAJIAN TENTANG TRADISI NGITA( PENGKAJIAN TRADISI NGITA) DI KABUPATEN LAMPUNG BARAT
Collection Location
Perpustakaan BPNB Jawa Barat
Edition
2018
Call Number
A. 48 UPA
ISBN/ISSN
Author(s)
Herry Wiryono, Iim Imadudin
T. Dibyo Harsono, Tjetjep Rosmana
Subject(s)
Kabupaten Lampung Barat
Upacara Perkawinan, Tradisi Ngita
Classification
A. 48 UPA
Series Title
GMD
Text
Language
Indonesia
Publisher
BPNB Jawa Barat
Publishing Year
2018
Publishing Place
Bandung -Jawa Barat
Collation
iii, foto, peta, lebar 28 cm, tinggi 29,5 cm, 94
Abstract/Notes
Kehidupan suatu masyarakat pada garis besarnya menunjukkan suatu kelompok tata kelakuan yang disebut adat istiadat yang dalam prakteknya berwujud cita-cita, norma-norma, pendirian, sikap, aturan, hukum undang-undang, dan sebagainya. Dalam satu suku bangsa seperti halnya Lampung saja, banyak kelompok yang masing-masing memiliki tradisi yang berbeda, seperti halnya dalam upacara perkawinan. Untuk itu perlu adanya sebuah kajian perihal tradisi seperti yang ada di masayarakat Lampung Barat, khususnya Tradisi Ngita yang saat ini sudah semakin jarang dilaksanakan. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji Tradisi Ngita dalam upacara perkawinan adat masyarakat Liwa di Lampung Barat. Tradisi Ngita sangat spesifik (Khas) yang tidak ada di masyarakat Lampung lainnya. Diharapkan dari hasil kajian ini akan dapat mengungkapkan salah satu tradisi masyarakat yang masih lestari, dan memberikan tambahan referensi tentang perkawinan adat Lampung Barat. Adapun batasan kajian ini meliputi wilayah penelitian meliputi Kota Liwa dan sekitarnya, Kabupaten Lampung Barat. Sementara itu batasan materi penelitian yaitu seputar upacara perkawinan adat, khususnya acara atau tradisi Ngita. Tentunya termasuk kegiatan-kegiatan sebelum dan sesudah Ngita, dalam prosesi perkawinan adat masyarakat Liwa di Kabupaten Lampung Barat. Kabupaten Lampung Barat merupakan salah satu kabupaten yang berada paling barat dan merupakan daerah perbatasan dengan Provinsi Sumatera Selatan. Kabupaten Lampung Barat sebelumnya merupakan bagian dari Kabupaten Lampung Utara, kemudian melalui Undang-undang Nomor 6 Tahun 1991 tertanggal 16 Juli 1991 dan diundangkan pada tanggal 16 Agustus 1991. Lampung Barat dimekarkan menjadi sebuah Kabupaten yang otonom. Kabupaten Lampung Barat terletak di pesisir barat Propinsi Lampung dengan Ibu Kota Liwa. Kabupaten Lampung Barat sekarang ini merupakan wilayah dari masyarakat adat Lampung Sai Batin. Sebenarnya sampai ke wilayah Kabupaten Pesisir Barat saat ini. Di Lampung Barat terdapat 4 kepaksian/Kesultanan yang namanya diambil dari nama leluhur/nenek moyang mereka yaitu : Kepaksian Perenong, Kepaksian Belunguh, Kepaksian Bejalan Di Way, dan Kepaksian Nyekhupa. Dari keempat Kepaksian tadi saat ini yang paling menonjol adalah Kepaksian Pernong, karena Sultan mereka kebetulan pernah menjadi pejabat di Pemerintahan (Kapolres Bandung Timur, Kapolda Lampung, Pengajar dik polri Lembang) dan sangat perhatian terhadap kelangsungan hidup Kesultanannya (Bp. Edward Syah Pernong yang bergelar: Paduka yang mulia Sai Batin Puniakan Dalom Beliau Pangeran Edward Syah Panong Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan ke -23). Salah satu tahap dari rangkaian upacara perkawinan adalah Ngita yang berarti melamar/lamaran yang masih ada dilaksanakan, meskipun dari waktu ke waktu terjadi penyesuaian dengan perkembangan zaman (seperti halnya di marga: Sukan, Liwa, Kembahang, Batu Brak, Kenali). Sebelum menginjak atau sampai di acara Ngita, seorang bujang harus melewati berbagai aturan adat yang harus dijalani. Sehingga tradisi Ngita ini sangat spesifik/khas, yang tidak ada di masyarakat Lampung Saibatin lainnya. Tradisi Ngita merupakan salah satu tahapan dalam proses perkawinan, Ngita sendiri merupakan proses melamar atau lamaran dari seorang bujang atau mekhanai kepada seorang gadis atau muli. Tradisi ini sampai saat ini masih berjalan meskipun sudah banyak mengalami penyesuaian, mengikuti perkembangan zaman. Seperti dalam aturan dan ketentuan yang sudah lebih disederhanakan diprsingkat, kemudian persyaratan yang sudah dikurangi. Namun pad intinya upacara Tradisi Ngita tersebut substansinya masih tetap dipertahankan, seperti dalam tata pergaulan antara bujang/mekhanai dengan seorang gadis/muli, masih tetap dibatasi dengan beragam aturan.
Specific Detail Info
2 eks