Temukan koleksi favoritmu

tersedia 252.982 koleksi, tersebar di seluruh perpustakaan di lingkungan kemdikbud

Efektifitas Edta dalam Membersihkan Endapan Garam pada Cagar Budaya Berbahan Batu | Katalog Induk Perpustakaan Kemdikbudristek

RECORD DETAIL
Back To PreviousXML DetailCite this

LAPORAN STUDI

Efektifitas Edta dalam Membersihkan Endapan Garam pada Cagar Budaya Berbahan Batu


Candi Borobudur merupakan candi yang terletak di alam terbuka sehingga sangat rentan terhadap proses kerusakan maupun pelapukan. Terutama proses pelapukan yang disebabkan oleh faktor iklim seperti pengaraman, retakan dan lain-lain. Proses pelapukan yang saat ini masih sulit ditangani adalah penggaraman. Pada tahun 2006, 2008 dan 2011 Unesco mengirinkan seorang peneliti pendamping Prof. Contantino Meuci, atas saran expert tersebut maka dilakukan kajian pembersihan endapan atau lapisan kerak menggunakan NH4HCO3 (ammonium bikarbnat) dan EDTA (ethylene diamine tetraacetic acid). Oleh karena itu pada tahun 2010 dilakukan kajian “Metode Konservasi Relief”. Hasil penelitian menunjukan bahwa larutan NH4HCO3, EDTA dan campurannya memiliki kemampuan untuk melarutkan kalsium (Ca) dari endapan garam pada batu relief Candi Borobudur. Tetapi perlakuan kedua pelarut tersebut belum terlihat secara nyata membersihkan endapan garam pada permukaan relief tersebut. Berdasarkan hasil kajian tersebut maka dilaksanakan kajian lanjutan pada tahun 2012, yang lebih difokuskan pada efektifitas EDTA dalam melarutkan endapan garam pada batu Candi Kalasan, Borobudur dan Mendut, dengan konsentrasi yang lebih tinggi dan dengan variasi waktu.
Maksud dari kajian “Efektifitas EDTA dalam Membersihkan Endapan Garam pada Batu Candi” adalah untuk mencari metode yang paling tepat dalam mengatasi endapan garam yang terdapat pada batu candi. Adapun tujuan dari kajian ini adalah: (1) mengetahui efektifitas aplikasi larutan kimia EDTA (ethylene diamine tetraacetic acid) dalam membersihkan endapan garam pada permukaan batu candi, (2) menentukan konsentrasi EDTA (ethylene diamine tetraacetic acid) yang paling tepat untuk membersihkan endapan garam pada permukaan batu candi, (3) menentukan lama waktu aplikasi EDTA yang tepat untuk membersihkan endapan garam pada permukaan batu candi. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah: studi pustaka, survai lapangan, analisis laboratorium dan eksperimen.
Komposisi lapisan kerak pada Candi Borobudur, Mendut dan Kalasan terdiri dari material organik dan an-organik. Didapatkannya unsur karbon (C), sulfur (S) dan phospat (P) mengidikasikan adanya material organik sedangkan didapatkanya unsure silica (Si), almunium (Al), magnesium (mg), besi (Fe) dan lain-lain mengindikasikan adanya material anorganik.Peningkatan konsentrasi EDTA dan lamanya waktu aplikasi tidak berpengaruh terhadap kelarutan logam kalsium (Ca), magnesium (Mg), besi (Fe) dan tembaga (Cu). (1) Konsentrasi EDTA 10% dan waktu kontak 24 jam sudah menunjukan hasil yang optimum dalam melarutkan Ca, Mg, Fe dan Cu pada lapisan kerak Candi Borobudur, (2) konsentrasi EDTA 3% dengan waktu kontak 24 jam sudah optimum untuk melarutkan Ca dan Mg dan konsentrasi 15 % untuk melarutkan Fe pada lapisan kerak Candi Mendut, serta (3) konsentrasi EDTA 5% dengan waktu kontak 24 jam menunjukan hasil optimum melarutkan Ca dan Mg dalam lapisan kerak Candi Kalasan, sedangkan untuk melarutkan Fe dan Cu optimum pada konsentrasi EDTA 3% dengan waktu kontak 24 jam.
Hasil digitalisasi menunjukan adanya perbedaan luasan lapisan kerak Candi Kalasan sebesar 58% setelah perlakukan dengan EDTA 5%, sedangkan pada Candi Borobudur dan Mendut tidak menunjukan adanya perbedaan luasan permukaan lapisan kerak baik sebelum maupun sesudah perlakukan. Sehingga metode pembersihan lapisan kerak menggunakan EDTA tidak dapat membersihkan lapisan kerak secara menyeluruh. Dilihat dari segi teknis pengerjaan dan hasil yang diperoleh, ternyata pembersihan lapisan kerak pada permukaan batu Candi menggunakan larutan EDTA ini belum efektif didasar pada perhitungan waktu, biaya dan resiko.

Borobudur temple is located in the open area so it is susceptible to damage and weathering processes. Especially the weathering process is caused by climatic factors such as salt deposits, cracks and others. The weathering process that is still hard to handle is the salt deposits In 2006, 2008 and 2011 Unesco send one a expert Prof Contantino Meuci, on the advice of the expert assessment is carried out cleansing salt deposits using NH4HCO3 (ammonium bicarbonate) and EDTA (ethylene diamine tetra acetic acid). Therefore, in 2010, conducted the study "Conservation Method of Relief Stones on Borobudur Temple". The results showed that the solution of NH4HCO3, EDTA and the mixture has the ability to dissolve calcium (Ca) of salt deposits on the stone reliefs of Borobudur. But treatment with two solvents have not seen a real cleaning salt deposits on the surface of the relief. Based on the result of the study was follow-up study conducted in 2012, which focused on the effectiveness of EDTA to dissolve salt deposits on the stone of Kalasan, Borobudur and Mendut Temples, with higher concentrations and with time variations.
The purpose of the study "Effectiveness of EDTA in Clean Salt Deposition on Stone Temple" is to find the most appropriate method to overcome the salt deposits are found on the stone temple. The objectives of this study were: (1) determine the effectiveness of application of a chemical solution of EDTA (ethylene diamine tetra acetic acid) to clean the salt deposits on the surface of the stone temple, (2) determining the concentration of EDTA (ethylene diamine tetra acetic acid) are most appropriate for cleaning salt deposits temple on the rock surface, (3) determine the length of time the proper application of EDTA to clean salt deposits on the surface of the stone temple. The research method used is: literature study, field surveys, laboratory analysis and experiments.
The composition of the crust at the Borobudur Temple, Mendut and Kalasan composed of organic material and inorganic. Obtainment elements carbon (C), sulfur (S) and phosphate (P) indicates the existence of an organic material, while elements of silica (Si), aluminum (Al), magnesium (mg), iron (Fe) and others indicate an inorganic material. Increasing the concentration of EDTA and the length of time the application has no effect on metal solubility of calcium (Ca), magnesium (Mg), iron (Fe) and copper (Cu). (1) 10% EDTA concentration and contact time of 24 hours has shown that optimum results in dissolving Ca, Mg, Fe and Cu at Borobudur crust, (2) EDTA concentration of 3% with a contact time of 24 hours is optimum to dissolve Ca and concentration of 15% Mg and Fe in the layer to dissolve Mendut crust, and (3) EDTA concentration of 5% with a contact time of 24 hours showed optimum results dissolving Ca and Mg in Kalasan crust, whereas for Fe and Cu dissolve optimum concentration of EDTA 3% with a contact time of 24 hours.
The results showed the difference in the extent of digitizing crust Kalasan by 58% after treatment with EDTA 5%, while at the Borobudur and Mendut not show any difference crust surface area both before and after treatment. So the method of cleaning the crust using EDTA can’t clean the crust thoroughly. In terms of technical progress and the results obtained, it was cleaning the crust on the surface of the stone temple using EDTA solution is not effective calculation was based on time, cost and risk.


Collection Location

Perpustakaan Balai Konservasi Borobudur

Detail Information
Series Title
-
Call Number
LS 544.9 SWA e
Publisher
magelang : Balai Konservasi Borobudur.,
Collation
xii, 36 hlm; 29 cm
Language
Indonesia
ISBN/ISSN
-
Classification
544.9
Content Type
-
Media Type
-
Carrier Type
-
Edition
-
Subject(s)
Specific Detail Info
-
Statement of Responsibility
File Attachment
No Data
Comments

You must be logged in to post a comment