Temukan koleksi favoritmu

tersedia 226.096 koleksi, tersebar di seluruh perpustakaan di lingkungan kemdikbud

TOPONIMI DI KOTA CIREBON

RECORD DETAIL
Back To Previous  XML Detail

Title
TOPONIMI DI KOTA CIREBON
Collection Location
Perpustakaan BPNB Jawa Barat
Edition
2007
Call Number
B. 46 SK
ISBN/ISSN
Author(s)
Lasmiyati, Heru Erwantoro,
Herry Wiryono, Yuzar Purnama
Subject(s)

Classification
B. 46 SK
Series Title
GMD
Text
Language
Indonesia
Publisher
BKSNT Bandung
Publishing Year
2007
Publishing Place
Bandung -Jawa Barat
Collation
21 cm; 29 cm; viii; ilustrasi: peta; 105 hlm
Abstract/Notes
Abstrak
Sebuah kota mempunyai kekayaan daerah, baik itu di bidang sejarah maupun budaya. Di bidang sejarah, kekayaan yang dimiliki dapat berupa benda bersejarah, bangunan bersejarah, ataupun tempat-tempat yang mengandung unsur sejarah. Semua itu perlu diungkapkan guna mengetahui makna sejarah yang dikandungnya, melalui penginventarisasian ataupun penelitian.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjawab permasalahan yaitu untuk mengetahui nama-nama tempat yang ada di kota Cirebon, khususnya yang masih menggunakan nama-nama yang mengandung nilai sejarah, untuk mendokumentasikan nama-nama tempat yang ada di kota Cirebon. Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah, dengan tahap-tahap meliputi tahap heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Asal-usul nama Cirebon, bila melihat jauh kebelakang, lahirnya Kota Cirebon tidak lepas dari runtutan Raden Pamanahrasa atau orang sunda sering memberikan julukan dengan nama Prabu Siliwangi (Yosep Iskandar dkk, 2000; 32). Raden Pamanahrasa yang menikahi Nyi Mas Subanglarang dikaruniai tiga orang putra yang bernama Pangeran Walangsungsang dan adiknya yang bernama Nyi Mas Rarasantang dan Raden Sengara. Pada suatu malam Pangeran Walangsungsang bermimpi ketemu dengan seorang kakek yang mengatakan agar Pangeran Walangsungsang berguru agama Islam kepada Syekh Datuk Kahfi di Gunungjati. Dari mimpi tersebut, Pangeran walangsungsang minta ijin kepada ayahnya untuk belajar agama Islam dan meninggalkan istana, namun ayahandanya tidak memberikan ijin atas kepergian Pangeran Walangsungsang, karena keinginannya untuk belajar agama Islam sangat besar, secara diam-diam Pangeran Walangsungsang pergi meninggalkan istana untuk menemui Syekh Datuk Kafi belajar agama Islam. Atas petunjuk Syekh Datuk Kafi, Pangeran Walangsungsang bersama istri dan adiknya membuka pendukuhan di Gunungjati yang nantinya akan dijadikan sebagai tempat tinggalnya. Setelah Cirebon dibawah kekuasaan Sunan Gunung Jati, wilayah Cirebon dibedakan menjadi dua yaitu daerah pesisir yang disebut dengan Cirebon Larang dan daerah pedalaman yang disebut dengan Cirebon girang. Untuk membedakan nama daerah pesisir dan daerah pedalaman adalah kalau daerah pesisir atau pantai Cirebon disebut dengan Cirebon larang, dikuasai oleh Ki Gedeng Cirebon Jumajan Jati, sedangkan wilayah yang berada di bawah kaki Gunung Ciremai disebut Cirebon Girang yang dikuasai oleh Ki Gedeng Kasmaya, ia sebagai penguasa wanagiri. Antara Ki Gedeng Kasmaya dan Ki Gedeng Jumajan Jati adalah masih saudara Anggalarang, dan antara Cirebon Larang dan Cirebon Girang dahulunya merupakan wilayah pajajaran, namun setelah Cirebon menjadi kerajaan yang berdaulat, Cirebon melepaskan diri dari kekuasaan Pajajaran. Mengenai nama-nama tempat di Kota Cirebon, baik itu nama yang dipergunakan untuk nama kecamatan, kelurahan, nama jalan, dan nama kampong mengandung unsur sejarah. Dari nama tempat yang mengandung unsur sejarah tersebut apabila diklasifikasikan, yaitu nama seseorang yang berjasa bagi keratin Cirebon seperti Pangeran Kejaksan yang dipergunakan untuk nama jalan kejaksan, maupun Pangeran Panjunan yang diambil untuk nama jalan yaitu Jalan Panjunan.
Specific Detail Info
2 Eksemplar