Temukan koleksi favoritmu

tersedia 226.138 koleksi, tersebar di seluruh perpustakaan di lingkungan kemdikbud

DEUREUHAM ACEH MATA UANG EMAS TERTUA DI NUSANTARA

RECORD DETAIL
Back To Previous  XML Detail

Title
DEUREUHAM ACEH MATA UANG EMAS TERTUA DI NUSANTARA
Collection Location
Perpustakaan BPNB Kalimantan Barat
Edition
Call Number
SEK - 900 (900-909) SUD D
ISBN/ISSN
978-602-9457-76-6
Author(s)
Sudirman
Subject(s)
Classification
SEK - 900 (900-909)
Series Title
GMD
Text
Language
Indonesia
Publisher
BPNB Aceh
Publishing Year
2018
Publishing Place
banda Aceh
Collation
v + 18 hlm; 14,6cm x 20,7cm;ILUS
Abstract/Notes
Banyak masyarakat yang belum mengetahui jika Indonesia pernah menggunakan mata uang deureuham (dirham) sebagai alat transaksi perdagangan. Dirham dikenalkan sebagai mata uang pada abad ke-13 di Kerajaan Samudra Pasai, Aceh. Mata uang emas atau deureuham tersebut sangat erat kaitannya dengan perekonomian masyarakat Aceh pada saat itu. Pada sekitar abad ke-16 dan 17, perekonomian Aceh memunculkan pula sistem takaran, timbangan, dan mata uang. Satuan takaran atau timbangan yang berlaku terkait dengan sistem unum yang berlaku di kawasan barat Nusantara pada waktu itu, yaitu koyan, bahar, pikul dan kati. Mata uang emas (deureuham) yang pernah ditemukan di bekas kerajaan Pasai adalah mata uang emas pertama dan dianggap sebagai deureuham tertua. Mata uang emas itu dikeluarkan pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Malik Al-Zahir (1297-1326 M). selain itu, bentuk mata uang emas itu juga ditiru oleh Kerajaan Aceh, setelah kerajaan itu menaklukkan Pasai pada tahun 1624 M. Mata uang ini yang berasal dari kerajaan Pasai dan Aceh, bentuknya kecil, tipis dan bulat; bergaris tengah + 1cm, beratnya tidak lebih dari 9 grein Inggris (1 grein sama dengan 0,583 gr). Pada sisi bagian muka uang itu umumnya tertera nama sultan dengan memakai gelar Malik az-Zahir. Pada sisi lain mata uang ini terdapat tulisan dalam bentuk ungkapan yang berbunyi as sultan al adil,ungkapan itu juga digunakan oleh sultan di kerajaan Aceh, hingga masa pemerintahan Sultan Alaiddin Riayat Syah Al-Mukammil. Akan tetapi pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda ungkapan itu tidak dipakai lagi.
Specific Detail Info