Temukan koleksi favoritmu

tersedia 226.266 koleksi, tersebar di seluruh perpustakaan di lingkungan kemdikbud

158. CANDI SEWU DAN ARSITEKTUR BANGUNAN AGAMA BUDHA DI JAWA TENGAH

RECORD DETAIL
Back To Previous  XML Detail

Title
158. CANDI SEWU DAN ARSITEKTUR BANGUNAN AGAMA BUDHA DI JAWA TENGAH
Collection Location
Perpustakaan BPCB Banten
Edition
2007
Call Number
930.1 DUM c
ISBN/ISSN
9799100887
Author(s)
Jaques Dumarcay
Subject(s)
Arkeologi, Candi Sewu dan Arsitekturnya
Classification
930.1
Series Title
GMD
Text
Language
Indonesia
Publisher
Kepustakaan Populer Gramedia
Publishing Year
2007
Publishing Place
Jakarta
Collation
Lebar 21 cm, Tinggi 29 cm, 250 Halaman
Abstract/Notes
Pada tahun 1960. waktu candi -candi perwara deretan barat di gugusan Candi Sewu sedang dibersihkan , ditemukan sebuah prasasti bahasa melayu kuno yang berangkat tahun 792, Isinya menyebut diadakannya perubahan pada bangunan. maka kami pastikan akan mencari apa gerangan perubahan itu dan apakah mempunyai persamaan dengan perubahan - perubahan yang diadakan pada bangunan agama Budha lainya di Jawa Tengah ,Pertama- tama kami tentukan berbagai teknik pembangunan yang pernah di pakai .Teknik yang beraneka ragam itu menunjukan bahwa di tempat pembangunan Candi Sewu itu terdapat regu kerja yang besar jumlahnya dengan bermacam , macam cara memotong serta menyusun batu dan membuat atap serta pintu, Kami melihat bahwa didasarkan pola hias yang diterapkan dengan cukup ketat , para pemahat berhasil juga mengungkapkan suatu segi kepribadiannya. Untuk menentukan dengan tepat perencanaan tata letak bangunan itu P, Londereau telah bersedia mencarikan satuan ukuran apa yang di pakai . Untunglah candi Sewu mempunyai sipat yang luar biasa yakni unsur - unsurnya banyak di ulang - ulang sehingga metode metode statistik klasik dapat diterapkan secara baru pada bidang ini , walaupun dengan kecualian -kecualian seperti yang di uraikan . Demikianlah diperkirakan , satu hasta berukuran 034 m . Angka ini telah di cocokan dengan bangunan - bangunan lain Khususnya dengan candi Borobudur, dan hasilnya lebih baik dari hasil penelitian sebelumnya . jadi yang di pakai itu benar - benar suatu ukuran , bukan suatu modul yang berbanding dengan besar bangunan . Kemungkinan - Kemungkinan yang terbuka bagi perhitungan itu sudah cukup. banyak menimbulkan minat orang sehingga baiknya kiranya dilanjutkan untuk mencari kelipatan - kelipatan dan pembagi - pembagi . Pada abad ke akhir abad ke 8 terjadi suatu gerakan besar besaran di bidang arsitektur bangunan - bangunan lebih banyak di sesuaikan dengan selera yang sedang berlaku dari pada didirikan baru dan ciri khususnya ialah diberikannya tempat penting kepada kelima jina dan lambang - lambangnya, Dengan demikian FDK. Bosch dapat dibuktikan secara cemerlang bahwa , Candi Sewu merupakan sebuah mandala. Hal itu tidak dirancangkan dari semula sehingga bcandi induk apalagi ikonografinya harus dirombak ,supaya arsitekturnya sesuai dengan denah mandala. Pada saat itu Borobudur sedang dibangun bentuk pertamanya yang tidak pernah selesai ( berupa limas berundak dan mungkin dimaksudkan untuk pemujaan Hindu dilanjutkan dan di ubah menjadi stupa. Ikonografinya yang baru dihadapkan ke empat penjuru anginmengambil tempat penting. Berdasarkan perkembangan arsirektur dapat memperinci hipotesa bahwa daerah Jawa Tengah pada waktu itu terbagi menjadi dua wilayah kebudayaan di sebelah utara agama Hindu disebelah Selatan Agama Budha. Pembagian ini kami kira baru terjadi tahun 732 yang dikenal sebagai prasasti Canggal , dan setelah agama Budha cukup mantap. Perombakan candi dan kedudukan penting yang diberikan kepada kelima Jina itu mestinya telah dibarengi dengan gerakan politik. Sebab bentuk - bentuk baru itu ternyata diterapkan pada Candi Borobudur. Perbatasan budaya pada saat itu (sekitar tahun 790 ) telah berpindah dari daerah Prambanan ke daerah hulu Sungai Progo. Perubahan - perubahan yang diadakan kemudian juga cukup besar cakupannya (umpamanya perubahan pada jalan - jalan masuk candi yang mulai dilaksanakan pada awal abad ke 9 meskipun tidak mempunyai sifat seumum perombakan - perombakan sebelumnya. perubahan itu dikerjakan dalam jangka waktu yang lebih panjang, Sampai kira - kira tahun 850. artinya sesudah agama Hindu unggul dan kedua wangsa disatukan kembali oleh wangsa Sanjaya pada tahun 832. Wangsa ini bersikap amat toleran sebab di bawah naungan Borobudur diperluas, suatu hal yang mungkin merupakan pengambilalihan, dan Candi Plaosan dibangun . Tetapi Candi Plaosan itu merupakan bangunan agama Budha penting terakhir yang pernah didirikan.
Specific Detail Info
5. Eksemplar