Temukan koleksi favoritmu

tersedia 226.268 koleksi, tersebar di seluruh perpustakaan di lingkungan kemdikbud

KARUNGUT KESENIAN KALIMANTAN TENGAH

RECORD DETAIL
Back To Previous  XML Detail

Title
KARUNGUT KESENIAN KALIMANTAN TENGAH
Collection Location
Perpustakaan BPNB Kalimantan Barat
Edition
Call Number
ISBN/ISSN
-
Author(s)
NENI PUJI NUR RAHMAWATI, DKK
Subject(s)
Classification
6.2(700-79
Series Title
GMD
Text
Language
Indonesia
Publisher
BPNB Pontianak
Publishing Year
2012
Publishing Place
Kalimantan Tengah
Collation
Abstract/Notes
Karungut merupakan seni bertutur, semacam pantun atau syair tentang nilai moral, adat, perjuangan bahkan pesan semangat untuk membangun. Seni ini diiringi dengan alat musik kecapi khas dayak, gong/kakanong, suling dan gendang. Karungut merupakan seni khas Kalimantan Tengah yang mempunyai arti dan makna yang sangat dalam untuk ritual dan untuk menyampaikan segala sesuatu sesuai dengan keperluannya. Dahulu Karungut dinyanyikan para ibu untuk menidurkan anaknya. Dewasa ini Karungut dapat ditemui di tempat hajatan perkawinan maupun khitanan, untuk menyambut tamu penting, untuk kampanye pilkada dan lain-lain sebagai salah satu ekspresi kegembiraan dan rasa bahagia diungkapkan dalam bentuk Karungut. Terkadang ditemukan perulangan kata pada akhir kalimat. Untuk mengamati cara tutur orang Dayak dalam mengekspresikan perasaan mereka maka terjemahan ke dalam bahasa Indonesia dibuat sebagaimana adanya kata per kata.

Translate
Karungut was an art of speech, a kind of poetry or poetry about moral values, customs, struggles and even messages of enthusiasm to build. This art was accompanied by a typical dayak harp, gong / kakanong, flute and drum. Karungut was a typical art of Central Kalimantan which had a very deep meaning and meaning for the ritual and to convey everything according to its needs. In the past, Karungut was sung by mothers to put their children to sleep. Nowadays, Karungut could be found at a wedding and circumcision, to welcome important guests, for the election campaign and others as an expression of joy and happiness expressed in the form of Karungut. Sometimes words were found at the end of a sentence. To observe how the Dayaks spoke in expressing their feelings, the translation into Indonesian was made as it is word for word.
Specific Detail Info