Temukan koleksi favoritmu

tersedia 226.243 koleksi, tersebar di seluruh perpustakaan di lingkungan kemdikbud

Layar Terkembang

RECORD DETAIL
Back To Previous  XML Detail

Title
Layar Terkembang
Collection Location
Perpustakaan LPMP Nanggroe Aceh Darussalam
Edition
Cet 42
Call Number
810 ALI l
ISBN/ISSN
979-407-065 3
Author(s)
ALISJAHBANA, Takdir ST
Subject(s)
Sastra
angkatan 30an
Classification
810 ALI l
Series Title
GMD
BUKU
Language
Indonesia
Publisher
Balai Pustaka
Publishing Year
2011
Publishing Place
Jakarta
Collation
xiv, 208 hlm ; ilus ; 21 cm.-
Abstract/Notes
Novel ini menceritakan tentang dua orang gadis kakak beradik dengan karakter berbeda yang tinggal di Cidengweg yaitu sang kakak Tuti seorang yang berpendirian tetap, menjunjung harga diri serta merupakan anggota dari Putri Sedar. Putri Sedar adalah sebuah organisasi pergerakan wanita yang sangat menjunjung tinggi keberadaan wanita yang saat itu dianggap lemah. Berbeda dengan adiknya yaitu, Maria. Ia merupakan gadis yang sangat ceria serta bergelora terhadap apa yang dilihatnya. Selain itu, mereka tinggal bersama sang Ayah, Raden Wiraatmaja yang baik hati juga religius. Suatu hari kedua gadis Wiraatmaja mengunjungi pasar ikan lalu bertemu dengan seorang pemuda yang baik hati yang merupakan mahasiswa kedokteran yang memiliki pemikiran modern bernama Yusuf. Namun pada pertemuan tersebut Maria justru lebih bisa menerima keberadaan Yusuf dibandingkan dengan Tuti yang tidak terlalu peduli. Pertemuan itu berlanjut ketika Yusuf akan pergi ke Sekolah Tinggi Tabib tempatnya menempuh pendidikan dokter dengan Maria yang juga akan menuju ke H.B.S. Carpentier Alting Stichting sebagai Murid di kelas penghabisan. Yusuf dan Maria menjadi semakin akrab sebab beberapa kali Yusuf berkunjung ke kediamanan keluarga mereka dengan sambutan yang hangat dari Wiriadmaja. Pada akhirnya pertemuan itu melahirkan rasa suka antara Maria dan Yusuf. Sementara Tuti masih sangat sibuk dengan bebagai kegiatan di kongres. Ia tumbuh menjadi wanita yang luar biasa untuk mewujudkan cita-cita nya menjunjung tinggi martabat wanita. Pada suatu kongres ia menyampaikan apa yang hendak ia sampaikan.

“kita harus membanting tulang sendiri untuk mendapatkan hak kita sebagai manusia. Kita harus merintis jalan untuk lahirnya perempuan yang baru, yang bebas berdiri menghadapi dunia, yang berani membentangkan matanya melihat siapa jua pun. Yang percaya akan tenaga dirinya dan dalam segala soal pandai berdiri sendiri dan berfikir sendiri. Yang berani menanggung jawab atas segala perbuatan dan buah pikirannya. Malahan yang hanya melangsungkan sesuatu pekerjaan yang sesuai dengan kata hatinya. Yang berterus terang mengatakan apa yang terasa dan terpikir kepadanya dengan suara yang tegas dan keyakinan yang pasti” (halaman. 40)

Dalam pidatonya beribu manusia yang ada di kongres tesebut bertepuk tangan. Namun kebahagiaan itu diselingi dengan rasa sakit. Maria terserang Malari. Hari ke hari kondisinya semakin parah sehingga harus dirawat pada Rumah Sakit di Central Burgerlijk Ziekenhius di Pacet, Sindanglaya, Jawa Barat. Keadaan tersebut membuat Ayah serta Tuti khawatir. Mereka sangat takut akan kehilangan yang keluarga mereka alami dua tahun silam ketika sang Ibu meninggal dunia. Satu hal lagi membuat kepala Tuti di penuhi kebimbangan. Supomo, seorang teman Tuti yang juga menjadi tenaga pengajar di tempatnya mengajar. Meminta Tuti untuk menjalin hubungan yang lebih lanjut. Walaupun Tuti juga memiliki rasa kagum terhadap lelaki tersebut namun kecil kemungkinan Tuti untuk mererimanya sebagai suami karena dirinya mempunyai pendirian tetap yang sangat luar biasa. Akhirnya Tuti menolak Supomo yang akan mempersuntingnya. Padahal sebelumnya ia juga pernah membatalkan hubungannya dengan seorang laik-laki yang juga akan mempersuntingnya beberapa waktu silam. Padahal kini usianya sudah hampir menginjak kepada tiga.

Di lain kesempatan Tuti dan Yusuf berkunjung ke persinggahan Ratna dan Saleh di sebuah perdesaan hingga mereka semakin lebih akbrab. bertolak belakag dengan kondisi Maria semakin bertambah buruk. Maria semakin merasakan sakit luar biasa dan ia merasa kepercayaan dirinya untuk sembuh sangat kecil. Hingga ia berkata kepada Tuti dan Yusuf “Alangkah bahagianya saya di akhirat nanti, kalau saya tahu, bahwa kakandaku berdua hidup rukun dan berkasih-kasihan seperti kelihatan kepada saya dalam beberapa hari ini. Inilah permintaan saya, saya tidak rela selama-lamanya kalau kakandaku masing-masing mencari peruntungan pada orang lain” (halaman 161). Ucapannya tersebut membuat Tuti dan Yusuf merasakan ada hal yang perlu mereka turuti sebagai orang yang mencintai Maria. Meski mereka berusaha untuk membantah ucapan Maria. Akhirnya Maria berpulang pada usia 22 tahun. Dan senja raya yang takkan terlupakan seumur hidup di rumah sakit yang sunyi, di lereng gunung yang ungu lembayung.
Specific Detail Info