Temukan koleksi favoritmu

tersedia 226.096 koleksi, tersebar di seluruh perpustakaan di lingkungan kemdikbud

GAGASAN PERSATUAN ETNIS DAYAK MASA PERGERAKAN NASIONAL DAN PEMBENTUKAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH (1905 - 1960)

RECORD DETAIL
Back To Previous  XML Detail

Title
GAGASAN PERSATUAN ETNIS DAYAK MASA PERGERAKAN NASIONAL DAN PEMBENTUKAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH (1905 - 1960)
Collection Location
Perpustakaan BPNB Kalimantan Barat
Edition
Call Number
KTE - 959.8 (950-959) LIS G
ISBN/ISSN
978-623-7526-07-0
Author(s)
Juniar Purba
Lisyawati Nurcahyani
Yusri Darmadi
Subject(s)
Classification
KTE - 959.8 (950-959)
Series Title
GMD
Text
Language
Indonesia
Publisher
MEDIA JAYA ABADI
Publishing Year
2019
Publishing Place
Jawa Barat
Collation
xxii + 82hlm; 15,5cm x 23,5 cm;ILUS
Abstract/Notes
Husman Baboe adalah salah satu tokoh Dayak yang ikut mempelopori perubahan bagi suku Dayak dan menjadi teladan bagi rakyatnya. Ia dikenal sebagai sosok yang toleran, akrab, terbuka dan tidak fanatik. Gagasan-gagasan Husman Baboe sangat berpengaruh di berbagai bidang diantaranya; sosial budaya, pendidikan, dan politik. Keinginan dan pemikiran Husman untuk mempersatukan Dayak direalisasikan dalam pendirian organisasi Pakat Dayak. Husman mengawali karirnya menjadi seorang wartawan pada tahun 1914. Melalui pers, ia memberikan kesadaran kepada masyarakat akan pentingnya pendidikan dan martabat agar menjadi orang yang pandai. Hal inilah yang membuka jalan bagi kemajuan pers di Kalimantan Tengah, kaum muda intelektual Dayak menjadi semakin kritis dan dalam menerima kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh Pemerintah Kolonial pada zaman itu. Selain Husman, George Obus, seorang politikus aktif yang juga merupakan Ketua Badan Ooesaha Goebernoer Boerneo (BPOG) yang kemudian diganti dengan Ikatan Pejuang Kalimantan (IPK) adalah putra asli Kalimantan, George dipercayakan menjadi Bupati Kapuas oleh Gubernur R.T.A. Milono. Goerge bersama rekannya yaitu Mahir mahar dan Tjilik Riwut ditugaskan untuk mencari daerah yang pantas dijadikan ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah, maka Kampung Pahandut adalah tempat yang diputuskan untuk menjadi ibu kota yang kemudian diberi nama Palangka Raya. Begitu pula Tjilik Riwut, pelopor perubahan suku Dayak. Tjilik adalah seorang penulis, karya-karynya berkaitan dengan segala kehidupan dan keseharian suku Dayak. Pemikiran Tjilik juga diaktualisasikan dalam pembentukan Provinsi Kalimantan Tengah, ia merasa harus memperkenalkannya kepada masyarakat umum maka ditulislah buku berjudul Memperkenalkan Kalimantan Tengah dan Pembangunan Kota Palangka Raja (1962)
Translate :
Husman Baboe was one of the Dayaknese figures who helped spearhead change for the Dayak tribe and as the example for his people. He was known as a person who was tolerant, friendly, open and moderate. Husman Baboe's ideas were very influential in various fields including; social culture, education and politics. His desires and thought to unite Dayak was realized in the founding of Pakat Dayak organization. He began his career as a journalist in 1914. Through the press, he gave the awareness to the public about what was the importance of education and the dignity in order to become intellegent people. This opened the way for progress in Central Kalimantan, young intellectual Dayaknese became more critical and recognize the policies carried out by the Colonial Government at that time. Besides Husman, George Obus, an active politician who is also the Chairperson of the Ooesaha Goebernoer Boerneo Agency (BPOG) which was later replaced by the Kalimantan Fighters Association (IPK) was a native of Kalimantan, George was entrusted to become the Kapuas Regent by the Governor of R.T.A. Milono. Goerge, with his colleagues, Mahir Mahar and Tjilik Riwut, were assigned to look for suitable areas to be used for the capital of Central Kalimantan. Therefore, Kampung Pahandut was a place that was decided to become the capital city and was named Palangka Raya. Likewise, Tjilik Riwut, a pioneer in the change of the Dayak tribe. Tjilik is a writer, his works discussed about life and daily life of the Dayak tribe. Tjilik's thought was also actualized in the formation of the Province of Central Kalimantan, he thought he had to introduce it to the community, he published a book entitled Memperkenalkan Kalimantan Tengah dan Pembangunan Kota Palangka Raja (Introducing Central Kalimantan and the Development of Palangka Raja City) in 1962.
Specific Detail Info