Temukan koleksi favoritmu

tersedia 226.243 koleksi, tersebar di seluruh perpustakaan di lingkungan kemdikbud

KAJIAN ORGANOLOGI ALAT MUSIK SULING DEWA DAYAK TONYOOI DI KECAMATAN BARONG TONGKOK, KABUPATEN KUTAI BARAT, KALIMANTAN TIMUR

RECORD DETAIL
Back To Previous  XML Detail

Title
KAJIAN ORGANOLOGI ALAT MUSIK SULING DEWA DAYAK TONYOOI DI KECAMATAN BARONG TONGKOK, KABUPATEN KUTAI BARAT, KALIMANTAN TIMUR
Collection Location
Perpustakaan BPNB Kalimantan Barat
Edition
Call Number
RKE - 788 (780-789) POL K
ISBN/ISSN
978-602-391-722-8
Author(s)
Poltak Johansen
Tutup Kuncoro
Ika Lestari
Subject(s)
Classification
RKE - 788 (780-789)
Series Title
GMD
Text
Language
Indonesia
Publisher
Diva Press
Publishing Year
2018
Publishing Place
Collation
Abstract/Notes
Suling Dewa merupakan media pemanggil dewa atau toh leluhur untuk segera turun dan menyembuhkan orang yang sedang sakit. Dalam upacara Berliant’ atau pengobatan, Suling Dewa disajikan oleh orang tertentu yang dipercaya masyarakat memenuhi syarat-syarat khusus. Hal ini dilakukan supaya tidak melanggar peraturan-peraturan adat dan dapat menyebabkan malapetaka atau hal-hal yang tidak diinginkan. Istilah penyebutan Suling Dewa pada awalnya dinamakan dewa karena sesuai fungsinya sebagai pemanggil dewa dalam upacara Berliant’. Alat musik Suling Dewa merupakan alat musik yang disakralkan dan berperan penting dalam upacara adat Berliant’. Namun, dalam perkembangannya telah mengalami pergeseran fungsi dalam kehidupan masyarakat Dayak Tonyooi di Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur. Saat ini, Suling Dewa tidak hanya digunakan sebagai sarana hiburan. Para pelaku seni yang berasal dari Dayak Tonyooi yang mahir memainkan Suling Dewa mencari terobosan sebagai alternatif dengan membuat Suling Dewa tiruan atau dipublikasi tanpa melalui proses ritual atau syarat-syarat yang ditetapkan untuk membuat Suling Dewa.

Translate :
Suling Dewa (Flute God) is a media which calls the gods or ancestors to get down and heal people who are sick. In the Berliant ceremony or treatment, Suling Dewa is presented by certain people who are trusted by the community and have filled the special requirements. This is done so as not to violate customary rules and can cause havoc or undesirable things. The term mention of the Suling Dewa was originally called the god because of its function as the summonioner of the god in the Berliant ceremony. Suling Dewa musical instrument is a sacred instrument and plays an important role in Berliant's traditional ceremonies. However, in its development it has experienced a shift in function in the life of the Tonyooi Dayak community in West Kutai, East Kalimantan. Currently, Suling Dewa is used as a means of entertainment. Artists from Dayok Tonyooi who are adept at playing Suling Dewa are looking for a breakthrough as an alternative to making the replica of Suling Dewa and published it without going through a process of rituals or conditions set to make a Suling Dewa.
Specific Detail Info